 |
Membedah Suluk Saloka Jiwa,
Karya RNg Ronggowarsito
Sebagai pujangga keraton Raden Ngabehi (RNg) Ronggowarsito memang hebat. Sangat banyak serat yang lahir dari cerminan kemurnian hati, salah satunya; Suluk Saloka Jiwa. Dengan kehebatannya, ia bisa menggabungkan hati orang Jawa agar mau menerima dua ajaran secara bersandingan yang sebelumnya sering terlibat konflik.
Dua ajaran itu adalah Islam dan Hindu. Kitab ini tampaknya diilhami oleh tradisi permusyawaratan para wali atau ahli sufi untuk membahas ilmu kesempurnaan atau makrifat yang banyak berkembang di dunia tarekat. Apa isi Suluk Saloka Jiwa itu? Penggalan bahasannya berikut ini: pertama didorong oleh rasa keinginan yang besar untuk mencari titik temu antara Hindu dan Islam, salah satu Dewa Hindu yakni Wisnu, rela menempuh perjalanan jauh. Dengan mengarungi lautan dan daratan, Wisnu yang dikenal sebagai Dewa Pemelihara itu datang ke Negeri Rum (Turki), salah satu pusat agama Islam, yang kala itu dalam penguasaan Daulah Usmaniyah.
Untuk mencapai maksud itu, sang Dewa mengubah namanya menjadi Syekh Suman. Dia pun menganut dua agama sekaligus. Lahir tetap Dewa Hindu, namun hatinya telah menganut Islam. Setelah menempuh perjalanan yang demikian jauh dan melelahkan, sampailah Syekh Suman di Negeri Rum. Kebetulan pada masa itu Syekh Suman bisa menghadiri musyawarah para wali itu bertujuan untuk mencocokan wejangan 5 mursid (guru sufi) :
- Syekh Ngusman Najid,
- Syekh Suman sendiri,
- Syekh Bakri Jalal,
- Syekh Bramana,
- Syekh Takru Alam
Dan, bisa saja kitab ini sebagai suluk jiwa begitu saja sebagaimana dimaksud dalam disertasi Dr. Alwi Shihab di
Universitas 'Ain Syams Mesir, Al Tashaqwuf Al-Indunisi Al Ma'asir yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa
Indonesia oleh Dr. Muhammad Nusamad menjadi Islam sufistik, "Islam Pertama" dan Pengaruhnya Hingga Kini di
Indonesia (Mizan, 2001).
Yang pokok karya Ronggowarsito yang satu ini memiliki pertalian yang erat dengan upaya mensikronkan
ajaran Islam dan Jawa (Hinduisme), oleh karena itu tak heran jika ada yang menyebut sosok Ronggowarsito
sebagai bapak Kebatinan (Spiritual) Jawa atau Kejawen. Penjulukan ini didasarkan pada kenyataan bahwa
karya-karya Ronggowarsito menjadi rujukan utama untuk Kebatinan Jawa. Serat Suluk Saloka Jiwa ini berbicara
soal dunia penciptaan, yaitu darimana manusia berasal dan kemana akan bakal kembali (sangkan paraning dumadi).
Ini terlihat dari hasil perbincangan 5 sufi di negeri Rum yang juga dihadiri oleh Syekh Suman alias Dewa Wisnu
tersebut. Dari sinilah Syekh Suman berkesimpulan bahwa sesungguhnya antara ajaran Islam dan Jawa memiliki
paralelisme.
Menurut Ronggowarsito, sebagaimana digambarkan dari hasil percakapan enam Sufi, Allah SWT itu ada sebelum segala
sesuatu ada. Yang mula-mula diciptakan oleh Allah adalah An-Nur yang kemudian terpancar darinya tanah, api, udara,
dan air. Kemudian diciptakanlah jasad yang terdiri dari atas 4 unsur;
- darah,
- daging,
- tulang,
- dan rusuk.
Api melahirkan 4 jenis jiwa :
- aluamah (dalam ejaan Arab lawwmah) yang memancarkan warna hitam,
- amarah (ammarah) memancarkan warna merah,
- supiah (shufiyyah) berwarna kuning
- dan mutmainah berwarna putih.
Paham penciptaan ini kemudian sangat berpengaruh terhadap tradisi Kejawen yang memang mengambil dari
ajaran Islam yang terpadu dengan kebudayaan lokal. Namun demikian, konsep tentang nafsu-nafsu itu
telah berkembang di kalangan kebatinan Jawa secara luas, bahkan juga berpengaruh bagi kalangan penganut
kebatinan Jawa non muslim.
|
|