 |
Wirid Wirayat Jati
Menjelaskan Keberadaan Tuhan
Bagian pertama yang diuraikan dalam Wirid Maklumat Jati adalah ajaran tentang keberadaan Sang Pencipta.
Ajaran pada bagian pertama ini disebut Wirid Wirayat Jati, yang menguraikan tentang cara manusia melihat
keimanan dan kepercayaan kepada Sang Pencipta atau "Pangeran." Ajaran Wirid Wirayat Jati sampai sekarang
belum diketahui penciptanya. Hanya menurut Tjacraningrat ajaran ini muncul dari pemikiran para bijak di
Tanah Jawa yang tercipta karena ketenangan jiwanya.
Ilmu sejati dari kesempurnaan iman sebenarnya berasal dari Kitab-Kitab Tasawub. Kitab tersebut juga
diperkirakan menjadi acuan dalam ajaran Wirayat Jati. Kitab Tasawub adalah kitab yang menjelaskan rahasia
Sabda Pangeran (Tuhan) kepada Nabi Musa Kalamulloh, yang antara lain menyatakan; "Sebetul-betulnya manusia
itu sejatinya "Pangeran" dan "Pangeran" itu hanya satu."
Kalimat tersebut adalah "inti" dari ilmu kesempurnaan iman yang diajarkan dalam Wirayat Jati.
Menurut KPH Harya Tjacraningrat, ilmu kesempurnaan uiman ini tidak dapat dipelajari oleh sembarang orang.
Hanyalah mereka yang memiliki tingkat ketenangan jiwa, hati dan pikiran seimbang yang dapat mempelajarinya.
Dalam ajaran Wirid Wirayat Jati memuat delapan tahap pemahaman.
Tahap Pertama di sebut Pitedahan Wahananing "Pangeran," yaitu pemahaman tentang hal iikwal keberadaan
"Pangeran" atau Tuhan. Wirayat Jati mengurai hal penting dalam kehidupan manusia, yang pertama menguraikan
tentang keberadaan "Pangeran." Keberadaan "Pangeran" diambil dari Sabda "Pangeran" kepada Nabi Muhammad SAW,
yang artinya antara lain :
"Sesungguhnya tidak ada apa-apa, karena waktu masih hampa, tidak ada sesuatupun kehidupan. Yang pertama-tama
adalah Aku, tidak ada Tuhan melainkan Aku, Dzat hidup yang maha suci."
Tahap Kedua mengurai tentang hakekat diciptakannya manusia, yang disebut Pembuka Kahaning "Pangeran". Bahwa
Tuhan menciptakan manusia melalui beberapa proses. Dari keberadaan Tuhan di alam hampa tanpa pepohonan manusia
hingga diciptakannya jiwa dan raga manusia sejati sampai hal-hal tentang posisi Tuhan dalam jiwa manusia.
tahap ini menjelaskan lebih detail bagaimana Tuhan menciptakan manusia. Dasar yang dipakai sebagai referen
dalam penjelasan tentang proses penciptaan manusia diambil dari Kitab Al-Quran sebagai dasar penjelasannya.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Tjacraningrat tokoh spiritual kraton Yogyakarta pada jaman Raja Hamangku Buwono I,
sebagai berikut :
Maka Tuhan berfirman kepada Nabi Muhammad SAW :
"Satuhune Ingsun Pangeran sejati kuwasa anitahake sawiji-wiji dadi padha sanaliko saka karsa lan pepesti Ingsun.
Ingkono Kanyatakake rasa, cipto, karsa lan pepetri Ingsun."
(Sesungguhnya Aku Tuhan sejati berkuasa memerintahkan segala sesautu terjadi seketika dari karsa dan kepastianKu.
Disitu menunjukkan rasa, cipta, karsa dankepastianKu."
Firman tersebut oleh leluhur Jawa diuraikan lebih mendetail bahwa proses penciptaan manusia terjadi melalui tujuh
tahapan, yaitu :
- Yang pertama, Aku berada di dalam alam hampa tanpa pepohonan manusia, yaitu alam yang masih keramat.
- Aku ciptakan cahaya untuk perantaraKu menuju alam peristirahatan
- Aku ciptakan bentuk menjadi rasaku yang berada di alam terbentuknya bibit
- Aku Ciptakan sukma menjadi tanda kehidupan yang berada di peredaran darah.
- Aku ciptakan Angan-anganyang menjadi warnaku yang berada di dalam alam yang Aku inginkan
- Aku ciptakan "Budi" sebagai wujud dari angan-angan yang berada di alam roh
- Aku cipta tempat sebagai wadah dari semua enam perkara di atas menjadi tindakan di dunia yaitu manusia sejati.
Sedangkan wadah manusia tercipta atas tiga perkara yang saling berkaitan, yaitu;
- Huruh/tanah dicipta menjadi : kulit, daging, hati, kalbu, jantung, herah, hati, sumsum, dll
- Kukus/cahaya disipta menjadi : nafas, pancaindra, nafsu
- Air/royot dicipta menjadi : sukma/nyawa, rasa/cipta
semua ini menjadi pertanda bahwa Tuhan berada di dalam jiwa dan raga manusia.
|
|